callistarecording.com

Margonda raya street 460 Showroom Bajaj lt.2 Depok Telp.(021) 93065629 or (021) 77 212666

1 2 3 4

Who's Online

Terdapat 1 Tamu online

Total of Visitor

Services

Callista Recording a full service music facility. We offer complete tracking, mixing and CD mastering services.
We specialize in working with independent producers, Indie labels and musicians working between multiple studios who are looking for the perfect place to cut basic tracks, do a critical overdub or mix their album.

Services :

- Help with composition and arrangements
- Hire session musicians for those special parts
- Budget planning
- Midi sequencing, loop and drum programming
- Expert producers and tracking engineers make sure your best performance is captured 
  flawlessly
- Live room with floated floors
- House instruments including drums, percussion, guitars, amps, keyboards & piano electrics
- Track 16 channel input recording simultanly
- Mix your album.
- CD Mastering
- Operet 
- etc.

Prices:

- Recording : Rp.350.000 /shift 
- Live /Semi Track : Rp.250.000/ 0.5 shift 
- Mixing : Rp. 250.000/lagu 
- Mastering : Rp. 200.000/lagu 
- Operet : Rp.400.000/shift 
- Rehearshall : Rp.35.000/hours
- Aransement Lagu : Minimum Rp.1.000.000/lagu
  Note: Tergantung materi lagu. Full Instrument.
             


For more information :
Please call : (021) 930 656 29 or (021) 77 212 666
                    Muslih : HP: 02189544331  (Konsultasi Aransement Lagu)

Proses Audio Mixing  adalah proses pengolahan sinyal audio secara internal dan digital yang dilakukan untuk membuat sinyal keluaran menjadi padu dan indah, seperti memadukan beberapa rekaman suara seperti gitar, bass, drum, synth bank, dll.

 

Mixing pada umumnya dilakukan setelah proses rekaman berlangsung, hasil akhir yang diinginkan adalah keluaran suara yang “pro”.

 

A. MONITORING LEVEL

 

Sebisa mungkin mixing dengan menggunakan headphone yang baik, jika  menggunakan merek sennheiser PX100 yang kualitasnya sangat baik dalam keseimbangan dan respon frekuensi yang lebar serta rata (flat), walau aplikasinya untuk mobile devices tapi baik juga digunakan mixing monitoring level artinya level volume pada saat kita mixing.

 

Kalau kita mixing dengan volume yang terlalu pelan, maka kemungkinan besar hasil mixing anda akan kebanyakan bass. Ada hubungan nya dengan teori kurva fletcher / munson yang singkatnya mengatakan bahwa telinga manusia pada saat volume rendah tak seberapa sensitif pada low & high frequency. disini terlihat bahwa telinga manusia memiliki kelemahan. menurut kurva diatas, jika kita mencari frekuensi rendah, misalnya 30 Hz, kita tidak akan menemukannya pada level volume (sound pressure level) rendah. kita hanya akan mendengar frekuensi tersebut jika kita memperbesar level volume sampai diatas 60dB. tetapi sangat tidak disarankan untuk menaikkan level volume sampai diatas 100dB karena akan merusak telinga anda. kira2 70-85dB
lah, cara mengukurnya juga dengan SPL meter yang ditempatkan di output speaker. kalau mau patokan mudahnya, kita masih bisa mendengar teman kita berbicara dalam radius 1 meter.

 

B. EXCITER

 

Alat ini berguna untuk meng-create frekuensi tinggi, bedakan dengan equalizer. equalizer bekerja dengan prinsip mem-boost frekuensi yang kita inginkan. dengan exciter kita akan mendapatkan sound yang tidak mendem dengan citarasa sempurna

 

C. KOMPRESOR

 

Ini alat yang paling penting dalam dunia recording! berarti mengkompres sinyal audio agar rata dan halus, “level different” lebih kecil, juga agar level volume tidak “beradu” keras dengan instrumen
lain misal gitar dengan vokal “berhimpit”. tetapi jangan terlalu banyak menggunakan kompresor sehingga suara akan terdengar berada dalam “tekanan”.

 

D. EQUALIZER
Suatu proses rekaman yang sempurna akan memudahkan pekerjaan selanjutnya yaitu mixing. penggunaan equalizer BISA dinihilkan jika grafik respon frekuensi tergolong sempurna (sesuai dengan yang kita inginkan) namun hal ini jarang terjadi. biasanya kita masih tetap membutuhkan EQ untuk mem-boost frekuensi yang kita rasa kurang. tapi ada satu hal penting yang harus kita perhatikan disini, jangan pernah mem-boost EQ lebih dari 6dB. keaslian suara akan hilang dan biasanya tidak akan imbang dan tidak enak didengar.

 

E. SOFTWARE/VTS PLUG IN
Seperti reverb untuk mempercantik suara, gunakan pada kadar yang tipis pada umumnya. surround dan imager untuk penataan lebar sempitnya suara dan letak virtual sumber suara

Ranah profesional audio adalah dunia bunyi. Bunyi dalam pro audio dipandang sebagai materi auditif yang manifestasinya berupa gelombang. Gelombang bunyi sebagai materi fisika memiliki sifat-sifat dan parameter-parameter.

 

Sifat dan parameter gelombang bunyi inilah yang menjadikan profesional audio sebagai bidang pekerjaan yang sangat mengandalkan pengukuran. Pengukuran terhadap nilai ambang tertentu. Terhadap parameter dan perilaku gelombang dan tentu saja terhadap kinerja peralatan yang merupakan lahan utama bidang pekerjaan profesional audio.

Peralatan dan/atau peranti dalam profesional audio senantiasa tersaji dalam keadaan terukur. Sebetulnya, bukan hanya perantinya saja, ruang tempat cakupan penataan audio pun semestinya tersaji secara terukur. Kadar keterukuran peranti dalam profesional audio, senantiasa dinyatakan dalam bentuk spesifikasi teknis.

Spesifikasi teknis inilah yang menjadi patokan saat kita membeli dan/atau menggunakan peranti. Saat kita ingin menyewa peranti tambahan untuk melengkapi sistem kita pun, seyogyanya memperhatikan benar akan spesifikasi teknis ini. Dalam pengoperasian sistem kita pun, spesifikasi teknis amat diperlukan agar sistem kita bekerja secara optimal dan dengan efisiensi yang sangat baik.

Secara teoritis, memang spesifikasi teknis merupakan pedoman bagi teknis operasi sebuah sistem tata bunyi. Namun, hendaknya senantiasa diingat bahwa hasil akhir dari sebuah sistem tata bunyi adalah bunyi itu sendiri. Bunyi adalah materi auditif. Jadi, sebetulnya ada peran yang amat besar dari indera pendengaran manusia dalam ranah profesional audio.

Yang menjadi masalah adalah seringkali pada situasi nyata, apa yang kita rasakan melalui telinga kita dapat sangat berbeda dengan rujukan spesifikasi teknisnya. Permasalahannya sekarang adalah bagaimana kita layak bersikap? Apakah mengandalkan spesifikasi teknis semata? Atau mengandalkan kemampuan “golden ear” kita semata? Ataukah kita harus berpatokan pada keduanya? Jika pun kita harus mengacu pada spesifikasi teknis dan sekaligus juga telinga, bagaimana korelasi antar keduanya?

Source :Artikel Lengkap Baca AudioPro Edisi 10 Oktober-November 2010

Dunia  AUDIO PRO (Profesional Audio) memiliki semesta pembicaraan tentang bunyi. Isu utamanya  adalah memproduksi  bunyi  dengan hasil akhir yang “layak” berdasarkan parameter tertentu.

Dalam menghasilkan bunyi yang “layak” itulah,dunia audio pro memiliki juga isu-isu pembicaraan disamping isu utamanya. Dibahas dan dipaparkan pengenalan piranti.Juga proses menghasilkan bunyi yang layak serta standarisasi kelayakan, dan sebagainya. Diantara topik bahasan di dunia seni bunyi profesional tersebut,ada sebuah proses yang dinamakan Mixing. Dari ranah itulah Bouncing berasal.

Terlebih dahulu kita akan menengok dan secara sekilas rantai reproduksi bunyi seperti pada tabel disamping. Bouncing, secara sederhana, dapat dimaknai sebagai , upaya mencampur bunyi yang terdapat dalam beberapa track (jalur) ke track baru dengan jumlah lebih sedikit. Bouncing adalah sebuah upaya untuk mencampur dan bukan merupakan sebuah pengelompokan bunyi belaka.

 

Bouncing dilakukan minimalnya untuk dan pada keadaan :

 
  • Penyederhanaan data bunyi. Dalam sesi rekaman professional bisa terdapat track yang berisi hasil tang kap bunyi dan berjumlah hingga puluhan. Untuk memudahkan pengolahan bunyi,kita melakukan bouncing. Misalnya, track drums yang terdiri dari track hi hat,track cymbals, snare, tom dua buah, floor, kick, kita bounce menjadi hanya satu track. Atau jika kita menginginkan stereo, dapat kita lakukan bounce menjadi dua track.Proses bouncing semacam ini akan memudahkan kita untuk memixing bunyi. Karena setidaknya sudah ada bunyi matang yang tercampur dan ini sangat berguna untuk membantu kita mewujudkan visi untuk bunyi miving secara keseluruhan.
  • Jika terdapat perbedaan jumlah kanal input output antara desk mixer dan prosesor eksternal. Dalam proses mixing idealnya tiap track mendapat processing secara mandiri. Namun seringkali hal semacam ini tak memungkinkan. Misalkan jika kita hanya memiliki compressor yang mono. Maka kita perlu melakukan bouncing. Agar dua bunyi dicampur dalam satu track namun memiliki hasil kompresi yang saling menunjang. Misalnya antara kick dan snare, mengkompres kick akan mengumpan naikkan snare . Memang nampaknya dibutuhkan pemahaman konsep dasar mixing. Itulah mengapa bouncing bukan sekedar pengelompokan bunyi belaka.
 

Dalam recording dengan system digital,bouncing juga memainkan fungsi dan perannya. Penyederhanaan jumlah track dapat menghemat space dan meringankan kinerja CPU komputer kita.

Source : website Audiopro